sumber: Instagram @psikologiunisa
TIPS PERSIAPAN UAS DI UNISA YOGYAKARTA
Yogyakarta, 12 Januari 2025 –Menjelang pelaksanaan Ujian Akhir Semester (UAS) untuk Semester Ganjil TA 2025/2026 pada 12-23 Januari 2026, mahasiswa Psikologi UNISA Yogyakarta mengalami berbagai dinamika respons psikologis. Momen penilaian akhir ini memunculkan reaksi beragam, dari keseriusan menghadapi, kepanikan, hingga kondisi pasrah menerima hasil akhir, fenomena yang menarik untuk dikaji dari perspektif psikologi pendidikan.
Menurut hasil observasi dan pengamatan langsung terdapat pola berbeda berdasarkan tingkat studi: mahasiswa tingkat menengah hingga akhir cenderung menunjukkan sikap lebih menerima, sementara mahasiswa baru lebih rentan mengalami kecemasan terkait IPK dan performa akademik mereka.
Analisis Psikologis: Dampak UAS terhadap Kesehatan Mental Mahasiswa
Pekan ujian tidak hanya menjadi penilaian akademis, tetapi juga ujian ketahanan mental. Bapak Agus Salim, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dosen Psikologi UNISA Yogyakarta, memberikan pernyataannya:
“Kondisi ini bila tidak dikelola dengan baik dapat berkembang menjadi stres berkepanjangan, burnout akademik, perilaku menghindar (avoidant) terhadap tugas, dan pada akhirnya berpotensi mengarah pada masalah kesehatan mental yang lebih serius. Mahasiswa psikologi sebenarnya memiliki keuntungan karena memahami teori, namun justru sering kesulitan dalam mengetahui solusi secara kognitif.”
Apa Bentuk Pola Psikologis nya?
mahasiswa semester awal menghadapi tantangan unik, dimana mahasiswa mengalami academic shock dengan intensitas lebih tinggi. Mereka tidak hanya beradaptasi dengan tuntutan akademik, tetapi juga dengan identitas sebagai mahasiswa psikologi. Ketidakpastian mengenai standar penilaian, tekanan menjaga IPK untuk beasiswa, dan ekspektasi diri yang tinggi menjadi faktor pemicu utama. Mereka sering kali belum mengembangkan mekanisme koping (coping mechanism) yang matang terhadap tekanan akademik.
Mengenai pola pada mahasiswa tingkat menengah hingga akhir, melihat perkembangan psikologis yang menarik. Mahasiswa tingkat akhir menunjukkan tingkat penerimaan yang lebih tinggi, namun perlu dibedakan secara klinis antara sikap realistis yang sehat (adaptive acceptance) dengan sikap pasrah yang kurang konstruktif (learned helplessness).
Pengalaman akademik bertahun-tahun memberikan perspektif lebih luas tentang makna kesuksesan akademik. Namun, penting untuk memastikan bahwa sikap menerima ini tidak berubah menjadi apati akademik. Di sinilah peran resiliensi akademik menjadi kritis.
TIPS Pengelolaan Stres UAS
- Teknik Manajemen Kognitif berdasarkan CBT
Pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dapat diadaptasi dengan teknik sederhana: menggugat pikiran negatif otomatis (seperti “aku pasti gagal”) menggunakan fakta dan bukti objektif dari pengalaman belajar sebelumnya, sehingga respons stres dapat dikurangi dan fokus belajar dapat pulih.
- Regulasi Emosi dengan Pendekatan Mindfulness
Teknik mindfulness yang dimodifikasi sangat efektif untuk situasi ujian. Latihan pernapasan diafragma 4-7-8 (4 detik tarik, 7 detik tahan, 8 detik buang) dapat dilakukan bahkan beberapa menit sebelum ujian. Selain itu, teknik grounding 5-4-3-2-1 (mengidentifikasi 5 hal yang dilihat, 4 yang dirasakan, 3 yang didengar, 2 yang dicium, 1 yang dikecap) membantu mengembalikan fokus saat kecemasan muncul,
- Pendekatan Behavioral: Strategi Belajar Berbasis Bukti
Metode belajar spaced repetition dan interleaving practice terbukti lebih efektif secara neurosains daripada sistem kebut semalam (SKS). Pembuatan peta konsep (concept mapping) juga membantu proses encoding informasi ke dalam memori jangka panjang.
- Manajemen Harapan Realistis
Penting untuk menetapkan tujuan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) untuk setiap mata kuliah. Mahasiswa perlu memahami perbedaan antara perfeksionisme maladaptif dan standar ekselen yang sehat.
“Menghadapi UAS sebagai mahasiswa Psikologi memberikan tantangan dan peluang unik. Mereka tidak hanya dituntut untuk berprestasi akademik, tetapi juga menjadi contoh dalam menerapkan prinsip-prinsip psikologi untuk kesejahteraan diri sendiri. Keseimbangan antara achievement dan well-being adalah kompetensi inti yang akan menentukan kesuksesan mereka baik sebagai akademisi maupun sebagai praktisi psikologi di masa depan.”– team website Psikologi Unisa
Ingat, jika rasa cemas atau stres mulai terasa berlebihan dan sulit dikelola sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Psikologi UNISA Yogyakarta siap memberikan dukungan dan konseling untuk membantu kamu melewati masa-masa ujian dengan lebih baik.
