Pengalaman Relawan Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta Dari Aceh: Hadir Menjadi Penyemangat, Pulang Dengan Hati Yang Mengabdi

Yogyakarta – 31 Januari 2026, kembalinya mahasiswa relawan psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dari kota serambi mekkah, Aceh. Ahmad Yazid Azandi Pradana sebagai salah satu perwakilan menyampaikan kondisi yang terjadi di lokasi yang menjadi tempatnya: “kalau di daerah kami, yang terdampak sekali itu sekolah nya. Namanya SD 20 Kekuyang Ketol, Aceh Tengah, disana ada 23 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6”

Ia juga menjelaskan bahwa proses belajar mengajar terjadi tidak efektif karena guru guru berasal dari luar daerah terdampak, sehingga transportasi menuju lokasi terputus, dan proses belajar mengajar dilakukan dengan shift dan pelaksanaannya proses belajar mengajar hanya 1 hingga 2 jam saja.

Yazid juga menjelaskan bahwa sebagai seorang relawan ia dibekali tugas yaitu 3L, yaitu Look, Listen, Link. Dalam psikososial Look berarti mengamati situasi dan individu untuk mengidentifikasi bantuan dan jenis dukungan apa yang dibutuhkan, Listen yaitu mendengarkan secara aktif dan empatik tanpa menghakimi, serta memberikan ruang bagi individu untuk berbagi pengalaman dan perasaan nya, dan yang terakhir yaitu Link dengan artian sebagai penghubung individu dengan sumber daya yang layak dan relevan, seperti penghubung kepada teman, keluarga, layanan kesehatan mental, dan organisasi bantuan lainnya.

2 minggu setelah bencana, aktivitas belajar mengajar sudah dilaksanakan seperti biasa, dan guru secara inisiatif hadir untuk mengajar kepada anak-anak dan para relawan mengajak anak-anak untuk bermain dan mendampingi proses tersebut. Anak-anak menjadikan sekolah sebagai trauma healing atau sebagai bentuk penyembuhan yang dapat mereka lakukan, setiap hari sekolah dengan tujuan berkumpul dan bermain bersama.

Terima kasih kepada semua relawan, mitra, dan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta yang telah ikut menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan dan kepedulian yang diberikan adalah pengingat bahwa kesehatan mental dan kemanusiaan selalu tumbuh ketika kita saling hadir. Bersama, kita belajar bahwa kebaikan sederhana bisa memberi dampak besar.

“Kami hanya dapat mengirimkan doa, semoga anak-anak baik” – Ahmad Yazid Ardani Pradana