Yogyakarta, 11 Febuari 2026 – Konten mengenai kesehatan mental kini membanjiri lini masa media sosial, terutama Tiktok. Meski meningkatkan kepedulian, fenomena ini membawa efek samping yang cukup mengkhawatirkan yaitu self diagnosis atau mendiagnosa diri sendiri. Lalu, bagaimana perspeksif ahli terkait hal ini? Yuk simak penjelasan dari dosen Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.

Menurut Bapak Galang Rambu Anarki S.psi.,M.Psi.,Psikolog, salah satu dosen psikologi di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, fenomena ini didominasi oleh Gen Z. “sejauh klien yang saya miliki, memang lebih banyak Gen Z yang akhirnya melakukan self diagnosis dibandingkan generasi milenial” ujarnya.

 Studi Kasus: Saat Literasi Menjadi Bumerang

 Menariknya, self diagnosis tidak hanya menyerang mereka yang awam. Pak galang mencerikan sebuah kasus di mana seorang klien dari kalangan akademisi yang terjebak dalam diagnosa nya sendiri, hal tersebut terjadi karena membaca literatur tanpa pendampingan profesional.

 Dalam praktik profesionalnya, Pak Galang kerap menemui klien terutama Gen Z yang meyakini dirinya mengidap gangguan berat hanya karena media sosial. Beliau menceritakan, “ada klien yang sangat yakin dia sosiopat karena baca jurnal, padahal setelah asesmen tidak ada. Ada juga yang merasa punya kepribadian ganda, padahal itu gangguan yang sangat parah dan butuh intervensi khusus, bukan sekedar cocoklogi”.

 Beliau menjelaskan bahwa ketika seseorang melakukan labeling pada dirinya, hal itu akan berubah menjadi sebuah kepercayaan. Dalam psikologi labeling adalah tindakan memberikan stigma kepada sesuatu berdasarkan perilaku, karakteristik, bahkan status nya tentunya pada kasus self diagnosis hal ini terjadi ketika memberikan stigma kepada diri sendiri. “bahayanya labeling adalah nanti jadi belief (kepercayaan). Yang awalnya gangguan itu tidak ada, jadi ada karena diinteralisasikan ke dalam diri” ujar Pak Galang.

 Pak Galang menegaskan bahwa diagnosis psikologis tidak dapat dilakukan secara sembarangan seperti yang terlihat di video singkat berdurasi 15 detik. Prosesnya panjang, melibatkan alat tes, periode observasi tertentu, dan asesmen yang terstruktur oleh profesional.

 Bagi mahasiswa psikologi, beliau berpesan agar berperan aktif untuk meluruskan stigma di lingkaran terdekat. “sampaikan bahwa psikolog pun membutuhkan kehati-hatian tinggi untuk mendiagnosa. Tidak serta-merta melihat langsung jadi kesimpulan” tambahnya.

 Tips Bijak Tidak Terjebak Dalam Self Diagnosis pada Konten Sosial Media

 Agar tidak terjebak dalam jurang self diagnosis, Pak Galang memberikan 3 tips yang bisa kita lakukan, yaitu:

  1. Ubah Sudut Pandang

Meyakini bahwa diagnosa psikologi bukanlah hal yang ecek-ecek walaupun tidak terlihat seperti penyakit secara fisik, diagnosa psikologis juga merupakan sesuatu yang serius dan perlu penanganan khusus untuk mendapatkan diagnosanya.

  1. Segera ke Profesional Jika Sudah Menjadi Kepercayaan

Namun, ketika diagnosa ini sudah menjadi kepercayaan, maka segeralah untuk datang ke profesional untuk mendapatkan validasi terkait hal yang dirasakan.

  1. Kurang-Kurangi Merasa “Kok Kayak Aku”

Pandanglah konten media sosial sebagai konten edukasi untuk peningkatan kesadaran diri bukan meningkatnya diagnosa diri.

“Pandanglah konten-konten yang dilihat sebagai konten edukasi untuk kepedulian diri, bukan konten untuk meningkatnya diagnosa diri” – Pak Galang Rambu Anarki S.Psi.,M.Psi.,Psikolog