Kasus kekerasan yang menimpa anak-anak di daycare baru-baru ini menjadi peringatan keras bagi para orang tua. Dampak dari peristiwa semacam ini tidak hanya sebatas luka fisik, tetapi juga meninggalkan jejak trauma psikologis yang mendalam.

Kaprodi Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Andhita Dyorita K.H., S.Psi., M.Psi., Psikolog, membagikan pandangan psikologisnya mengenai langkah-langkah krusial dalam pendampingan anak korban kekerasan.

1. Waspadai Tanda-Tanda Regresi

Langkah paling awal dalam penanganan trauma anak adalah deteksi dini. Indikator utama yang sering muncul adalah regresi atau kemunduran kemampuan anak.

  1. Anak tiba-tiba kembali mengompol padahal sudah lulus toilet training.
  2. Muncul gangguan tidur atau mimpi buruk yang intens.
  3. Anak menarik diri dari lingkungan atau sebaliknya, menjadi sangat agresif.
  4. Reaksi ketakutan berlebih saat berpisah dari orang tua (separation anxiety).

2. Gunakan Media Ekspresi Non-Verbal

Memaksa anak usia dini untuk bercerita langsung justru dapat memicu trauma ulang. Orang tua dapat membantu anak mengekspresikan emosi melalui media non-verbal seperti menggambar atau bermain. Dari pemilihan warna (misalnya warna gelap atau merah yang dominan) dan bentuk coretan, orang tua bisa melihat indikasi emosi yang sedang dirasakan anak.

3. Validasi Emosi dan Bangun Kembali Rasa Aman

Pemulihan psikologis membutuhkan kehadiran orang tua sebagai figur yang aman (secure attachment). Validasi perasaan anak dengan penuh empati dan hindari meremehkan ketakutan mereka. Mengenai esensi utama dari proses penyembuhan ini, Andhita menegaskan:

“Pemulihan bukan soal melupakan kejadian, tetapi bagaimana membangun kembali rasa aman. Anak perlu memahami bahwa pengalaman tersebut tidak benar, dan lingkungan yang aman adalah kondisi yang seharusnya.”

Berikan pelukan hangat dan biarkan anak mengambil pilihan-pilihan kecil dalam kesehariannya untuk mengembalikan rasa memegang kendali atas dirinya.

4. Dukungan Psikologis untuk Orang Tua

Pemulihan anak akan berjalan optimal jika orang tua memiliki kondisi mental yang stabil. Rasa bersalah atau stres pasca-kejadian adalah hal yang wajar. Oleh karena itu, mencari dukungan profesional dari psikolog juga sangat penting bagi orang tua agar bisa menjadi pendamping yang tangguh bagi anak.

Trauma akibat kekerasan dapat berdampak jangka panjang dan berkembang menjadi gangguan psikologis jika tidak ditangani dengan tepat. Jika anak menunjukkan perubahan perilaku yang menetap, segera konsultasikan dengan profesional untuk mendapatkan intervensi sedini mungkin.

Informasi Lebih Lanjut

Tiktok Psikologi UNISA

Instagram Psikologi UNISA

WhatApp Admin: 0878-3941-1345

Website PMB: pmb.unisayogya.ac.id

Mari bergabung menjadi bagian dari Psikologi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta!